Pantai Perkit: Ketika Bencana Melahirkan Daya Tarik Wisata Baru di Kota Padang

Pantai Perkit, yang terletak di kawasan Air Tawar, Kota Padang, kini menjadi pusat perhatian warga setempat. Lokasi yang juga dikenal sebagai Pantai Belibis ini telah mengalami perubahan signifikan pada bentang alamnya.

Saat sore hari, pantai ini dipadati pengunjung yang ingin berjalan kaki di atas hamparan pasir luas.

Fenomena ini menjadikan Pantai Perkit sebagai destinasi favorit baru untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

Dampak Besar Banjir Bandang 2025

Perubahan dramatis pada bibir pantai ini terjadi pasca bencana banjir bandang yang melanda Kota Padang pada akhir tahun 2025. Bencana alam tersebut, yang sering disebut galodo, membawa material dalam jumlah sangat besar dari wilayah hulu sungai. Material tersebut terdiri atas campuran tanah, pasir, batu, dan serpihan kayu.

Seluruh material sedimen ini kemudian terbawa arus sungai dan mengendap secara masif di area muara dan bibir pantai. Proses pengendapan intensif inilah yang menyebabkan pendangkalan ekstrem di sepanjang garis pantai tersebut.

Terbentuknya Delta dan Pulau-Pulau Kecil

Akumulasi material sedimen pasca banjir bandang tersebut kini telah menciptakan formasi daratan baru. Para ahli geologi mengidentifikasi formasi ini sebagai delta, yaitu endapan tanah yang terbentuk di muara sungai. Delta pasir ini menyebabkan garis pantai menjadi lebih luas dan perairan menjadi sangat dangkal.

Pada kondisi tertentu, pendangkalan tersebut bahkan membentuk gumuk pasir atau pulau-pulau kecil temporer. Hamparan pasir luas ini memungkinkan warga untuk berjalan jauh ke tengah laut saat air surut tanpa harus berenang.

Kekhawatiran Terhadap Potensi Abrasi

Meskipun menyajikan pemandangan unik dan daya tarik wisata baru, perubahan morfologi Pantai Perkit menimbulkan kekhawatiran dari sisi lingkungan. Pembentukan delta pasir di depan muara Batang Kuranji dinilai dapat mengubah dinamika ombak laut. Perubahan pola ini berpotensi meningkatkan risiko abrasi pada segmen garis pantai di sekitarnya.

Arah hempasan dan kekuatan gelombang dikhawatirkan akan menjadi lebih berat pada segmen muara Air Dingin hingga ke muara Batang Kuranji. Oleh karena itu, diperlukan kajian geologis mendalam untuk memantau dampak jangka panjang dari sedimentasi masif ini.

Gambar: Instagram/friski.id

Komarudin
Komarudin

Hai, terima kasih sudah membaca tulisanku. Senang rasanya bisa menulis tentang berbagai hal yang berhubungan dengan pariwisata, dan budaya. Jika perlu penulis bisa hubungi lewat akun sosial mediaku ya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *